Kesenian jaranan atau dengan nama lain
Kuda Lumping dan Kuda Kepang merupakan kesenian khas Kediri, kesenian
ini berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Kediri, seni
jaranan merupakan bentuk kesenian yang menggambarkan tentang kegagahan
pasukan berkuda masa kerajaan yang bertugas membasmi keangkaramurkaan.

Seni jaranan ini menggunakan peralatan
tari berupa, kuda kepang (kuda yang terbuat dari anyaman bambu), bentuk
celeng (babi hutan), dan topeng Caplokan.
Dalam frame penampilannya, penari jaranan akan tampil pertama kali dan menari menggunakan kuda kepang dengan diiringi instrument gamelan.
Dalam frame penampilannya, penari jaranan akan tampil pertama kali dan menari menggunakan kuda kepang dengan diiringi instrument gamelan.
Gerak tari yang ditampilkan merupakan
gerak dinamis yang sesuai dengan irama gamelan pengiringnya. Penampilan
selanjutnya muncul sosok penari Caplokan dari penari babi hutan sehingga
terjadi pertarungan diantara ketiganya.
Pada puncak tariannya, para pemain jaranan akan mengalami trance sehinggan melakukan atraksi menakjubkan dan tidak bias dilakukan oleh manusia biasa, atraksi-atraksi tersebut antara lain : memakan pecahan kaca, berjalan diatas api, dst.
Penari-penari biasanya akan didampingi
oleh seorang Gambuh yaitu pawing seni ajaran yang bertugas mengobati
penari agar sembuh dari trance-nya dan dapat normal kembali.Pada puncak tariannya, para pemain jaranan akan mengalami trance sehinggan melakukan atraksi menakjubkan dan tidak bias dilakukan oleh manusia biasa, atraksi-atraksi tersebut antara lain : memakan pecahan kaca, berjalan diatas api, dst.
KETHEK OGLENG
Selain jaranan, Kediri juga punya kesenian khas yang lain. Bahkan, tari yang dicuplik dari kisah asmara Panji Asmarabangun dan Dewi Kilisuci tersebut juga sudah mendunia. Tapi sekarang tari ini terancam punah. Bagi komunitas seniman Kediri, nama Guntur sudah tidak asing lagi. Dedikasinya terhadap dunia seni bahkan sudah membawanya hingga ke berbagai negara di dunia. Memperkenalkan tari nasional ke seluruh dunia. Salah satunya adalah mempertontonkan tari Kethek Ogleng. Menurut Guntur, tari Kethek Ogleng sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Tari ini mengalami masa puncak pada era 70-an. Seiring berjalannya waktu, tari Kthek Ogleng perlahan-lahan mulai jarang ditampilkan. Pada era 90-an kegemaran masyarakat dan seniman mulai bergeser. Mereka lebih suka memainkan jaranan yang gerakan dan musiknya lebih sederhana. Tak heran bila saat ini warga Kediri lebih mengenal jaranan sebagai seni khas Kediri dibandingkan Kethek Ogleng. Apa yang membuat Kethek Ogleng menjadi kesenian khas Kediri? Guntur mengatakan sebenarnya tari tersebut berasal dari legenda Kota Kediri. Yaitu kisah percintaan Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji dalam Cerita Panji.
Saat berkelana di hutan kera putih
berjumpa dengan Endang Roro Setompe yang merupakan nama lain dari Dewi
Sekartaji. Melihat sosok Dewi Sekartaji yang cantik jelita, Panji pun
tergoda. Namun sayangnya Sekartaji tidak mau memiliki suami seeekor
kera. “Akhirnya Sekartaji meninggalkan kera sendirian di tengah hutan,”
cerita Guntur.
Cerita itulah yang kemudian ditampilkan
dalam bentuk satu tarian dengan nama Kethek Ogleng. Sebenarnya untuk
bisa menampilkan kesenian itu hanya dibutuhkan dua orang penari dengan
iringan musik gamelan. Penari pertama berperan sebagai kera putih dan
penari kedua berperan sebagai Dewi Kilisuci.